Amir hamzah
#Buah rindu#
Tema puisi-puisi dalam antologi ini rupanya masih dekat dengan Nyanyi Sunyi. Melalui puisi di Buah Rindu, Amir Hamzah dengan khas menuliskan keterasingan dan
kesepiannya. Puisi-puisi dalam antologi ini, menurut Harry Aveling (2002:163),
merupakan gambaran hubungan cinta dalam arti luas. Ada hubungan cinta antara
ibu dan anak, laki-laki dan perempuan, yang kemudian bercampur dengan pujaan
terhadap bermacam dewa-dewa, asmara, dan Tuhan.
Tanggapan perasaan puisi Amir Hamzah terhadap perempuan dalam antologi
ini juga bermacam-macam. Kadang Amir Hamzah mengungkapkannya dengan nada
bermain-main, kadang nostalgik, kadang dengan nada marah, dan kadang pula
melindungi. Ungkapan tersebut barangkali bersesuaian, baik sengaja maupun
tidak, dengan kondisi batin Amir Hamzah yang galau dan peristiwa di balik
penciptaan puisi-puisi tersebut. Kita bisa lihat beberapa larik-larik sajak
Amir Hamzah yang memperlihatkan kepedihan dan kemarahannya pada perempuan dalam
puisi “Kusangka” berikut ini.
Kusangka cempaka kembang setangkai
Rupanya melur telah diseri ….
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.
Rupanya melur telah diseri ….
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.
Kuharap cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari ….
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.
Belum tahu sinar matahari ….
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.
Kupohonkan cempaka
Harum mula terserak ….
Melati yang ada
Pandai tergelak ….
Harum mula terserak ….
Melati yang ada
Pandai tergelak ….
Buah Rindu menggambarkan kerinduan sebagaimana bisa ditangkap
dari judul buku ini. Tema-tema kerinduan itu memang lazim digarap para penyair
Indonesia sebelum perang kemerdekaan. Melalui perasaan rindu itu, penyair ingin
menghidupkan kembali sebuah dunia harmonis yang penuh cinta dan sekarang tidak
ada lagi.
Meskipun mengangkat tema yang sama tentang kerinduan, setiap penyair
punya kecenderungan dan masalahnya masing-masing. Kerinduan yang mendominasi
dalam puisi-puisi Amir Hamzah, misalnya, disebabkan oleh kerinduannya pada
kampung halaman. Kerinduan ini kemudian bercampur dengan kemurungan karena
cinta yang kandas dan hasrat untuk dekat dan menyatu dengan Tuhan. Kerinduan
kepada Tuhan ini akan lebih mewarnai puisi-puisinya pada prosesnya yang di
kemudian hari dalam antologi Nyanyi Sunyi.
Amir Hamzah adalah salah satu penyair Pujangga Baru yang berada di
barisan paling depan. Bahkan, H.B. Jassin sendiri tak segan mentahbiskan Amir
Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hamzah adalah penyair yang pada
zamannya mampu menggabungkan antara individualisme Eropa dengan tradisi sastra
Melayu. Puisi-puisi Amir Hamzah merupakan jalan pembuka untuk memasuki era baru
kesusastraan Indonesia. Dalam puisi Amir Hamzah sudah jarang ditemukan bahasa
Melayu yang cantik dan kompleks, yang ada adalah kalimat-kalimat sederhana dan
ringkas namun kuat dan sarat makna.
Tradisi sastra Melayu yang masih muncul dalam antologi ini adalah bentuk
rima yang masih mengikuti rumus pantun. Kita bisa melihat contoh potongan puisi
“Berdiri Aku” di bawah ini:
Berdiri Aku
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-alun di atas alas.
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-alun di atas alas.
Benang raja mencelup ujung
Naik marak menyerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.
Naik marak menyerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.
Dalam rupa maha sempurna
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertemu tuju.
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertemu tuju.
Selain tradisi sastra Melayu lama yang mempengaruhi karya-karya Amir
Hamzah, ada pengaruh dari pula karya sastra lain. Misalnya karya sastra
Belanda, Timur Tengah, India, Persia, dan berbagai karya sastra lainnya. Namun,
agaknya pengaruh itu tidak tampak begitu nyata dalam puisi Amir Hamzah.
Sebaliknya, dengan piawai, ia mampu mengelaborasikan berbagai tradisi penulisan
sastra tersebut ke dalam karyanya.
Mujibur Rohman, Redaktur www.TengkuAmirHamzah.com dan ww.MelayuOnline.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar